Arsitektur Unik Masjid Agung Cianjur

Salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat memiliki banyak cerita, baik budaya maupun bangunan bersejarah lainnya.

Ya, kabupaten ini adalah Cianjur, yang mana kabupaten ini sampai saat ini sudah lama dikenal sebagai Istana Presiden di Cipanas, di wilayah Cianjur tentu saja juga sangat terkenal dengan berbagai macam atraksi berbau alam yang masih eksis di wilayah gunung Gede Pangrango bersamaan dengan wisata di Taman Cibodas yang berada tepat di bawah kaki Gunung Gede.

Arsitektur Unik Masjid Agung Cianjur

Lalu ada Taman Bunga Nusantara yang mengikutinya, yang dulunya disebut sebagai Situs Megalit Gunung Padang sebagai objek wisata nasional yang memancarkan nama Cianjur di dunia internasional.

Di Kabupaten Cianjur juga memiliki bangunan yang sangat indah dan tentu nya ciri khas dan bentuk masjid ini sedikit di mirip kan dengan bentuk Masjidil Haram yang merupakan salah satu ikon yang cukup terkenal ketika Anda berada di kabupaten Cianjur, masjid agung Cianjur juga merupakan salah satu bangunan bersejarah terpenting.

Lokasi penempatan masjid agung Cianjur juga di bangun tidak jauh dari area alun-alun kota Cianjur, dan juga dekat dengan Rumah Sakit paviliun dan juga dekat dengan kantor pos pusat Cianjur.

Masjid Agung Cianjur adalah masjid yang masih mempertahankan nilai-nilai arsitektur asli hingga saat ini tanpa renovasi signifikan.

Masjid Agung Cianjur  merupakan sebuah bangunan masjid yang sangat indah, menurut ungkapan dari salah satu pihak Pembuat Kubah Masjid  menjelaskan bahwa masjid Agung Ciamis ini masih memprtahnakn nilai-nilai sejarah dengan cara tidak membangun sedikit pun Kubah Masjid yang mana dengan begitu nilai-nilai sejarah pada masjid ini akan terjaga utuh 

Konon, masjid agung Cianjur masih mempertahankan tradisi budaya dengan gaya khas nusantara di sebuah kompleks ruang pertemuan, alun-alun, hingga kantor-kantor pemerintah yang telah menjadi ciri khas tata ruang kota sejak era Kesultanan di kepulauan, di mana masjid menjadi unit bersama dengan alun-alun kota, pasar dan kedaton (pemerintah pusat).

Gaya arsitektur dan interior masjid agung Masjid Cianjur adalah kombinasi gaya kepulauan modern dan klasik, yang di dalam masjid unsur-unsur budaya klasik masih cukup tebal untuk terlihat baik di dalam maupun di luar masjid.

Yang paling khas adalah bentuk atapnya, yang masih dipertahankan dengan model lama. Bentuk atap masjid agung Cianjur berupa atap limas dengan denah persegi panjang dengan kubah kecil di bagian atas.

Menurut beberapa sumber melek yang dapat diandalkan, terungkap bahwa Masjid Agung Cianjur pertama kali dibangun pada tahun 1810. Setelah setidaknya terjadi hingga 7 renovasi dan juga penambahan sedikit tanah di sekitar area masjid dan masjid ini juga sempat menerima perpanjangan pelebaran tanah dari Sekretariat Masjid Agung Cianjur.

Yang mana masjid ini telah dibangun hingga saat ini Masjid Agung Cianjur cocok untuk setidaknya 4000 jamaah dengan luas total 2.500 m2. Meskipun sekarang telah mengalami beberapa renovasi dan ekspansi, napas bersejarah masih kental.

Di Masjid Agung Cianjur, ia memiliki tiga pintu utama, dan setiap pintu diberi nama yang berbeda. Di depan pintu masuk utama disebut Babul Marhamah yang di sebelah timur dua pintu lainnya, masing-masing di sisi selatan disebut Babussalam dan pintu utara disebut Babussakinah. Nama-nama pintu ini jelas ditampilkan di atas setiap pintu, oleh karena itu sekilas, pengunjung atau pelancong kadang-kadang menyebutkan nama masjid ini sesuai dengan nama yang tertulis di atas pintu masjid ini untuk menunjukkan berbagai variasi nama pada masjid ini. muncul. Bahkan, Masjid Agung Cianjur memenangkan penghargaan sebagai masjid terbaik di provinsi Jawa Barat dalam hal manajemen dan kehebatan.

Sejarah Masjid Agung Cianjur

Masjid Agung Cianjur, pertama kali dibangun oleh komunitas Cianjur pada tahun 1810 Masehi di tanah wakaf Ny. Raden Bodedar, putra Kanjeng Dalem Sabiruddin, bupati ke-4 Cianjur. (tapi sayangnya nama orang yang pertama kali membangunnya tidak dimasukkan). Awalnya ukurannya sangat kecil. Sekitar tahun 1820 M, diperbaiki dan diperluas untuk pertama kalinya, sehingga ukurannya menjadi 20 x 20 M2 atau hanya 400 M2.

Perbaikan dan perluasan ini dilakukan oleh cucu Dalem Sabirudin, Penghulu Gede, Raden Muhammad Hussein Bin Sheikh Abdullah Rifai. Sheikh Abdullah Rifai adalah putra Mohammed Hussein yang berasal dari Arab dan darah Banten dari keturunan Bayu Suryaningrat, ia juga Uskup Agung Cianjur pertama dan menantu Kanjeng Dalem Sabiruddin, ia menikah dengan NYR Mojanegara Binti Dalem Sabirudin.

Pada tahun 1879, masjid agung Cianjur dihancurkan hingga dihancurkan oleh letusan Gunung Gede.

Namun, insiden itu melibatkan beberapa korban, termasuk seorang sarjana Cianjur yang sangat terkenal saat itu, R.H. Idris bin R.H. Muhyi (ayah dari KRH Muhammad Noah, seorang ulama agung Cianjur), di mana saat itu ia tinggal di daerah dekat desa Kaum Kidul.

Kemudian, pada tahun 1880 atau setidaknya satu tahun setelah letusan Gunung Gede, Masjid Agung Cianjur dibangun kembali oleh RH Soelaeman, yang masih menjabat pada saat itu dan bersama dengan RH Ma’mun bin RH Hussein atau lebih dikenal sebagai RH Juragan memegang posisi kepala penguasa. Guru kabut asap, dan juga dibantu oleh masyarakat Cianjur. Pada saat itu, Masjid Agung mengalami perubahan bentuk dan mendesain ulang bangunan. Sehingga luasnya mencapai 1.030 M2.

Pada tahun 1912, ketika masjid itu bahkan berusia 32 tahun, perbaikan dilakukan dan juga diperluas oleh RH Moch Said Uskup Agung Cianjur, Isa al-Cholid salah satu guru Thorekat, RH Tolhah Bin RH Ein al-Cholid dan H Akiya Bin Darham, asli Cianjur keturunan Kudus.

Masjid Agung Cianjur juga telah mengalami sejumlah renovasi dalam skala yang cukup besar dan perluasan kecil juga. Meskipun demikian, bentuk arsitektural dipertahankan dari tahun 1950 hingga 1974, yaitu bangunan dengan atap persegi.

Sejauh ini, Masjid Agung Cianjur telah diperbaiki dan dipulihkan tujuh kali. Total biaya perbaikan terakhir Rp. 7,5 miliar, implementasi dimulai pada 2 Agustus 1993 hingga 1 Januari 1998 dan diresmikan pada 13 Juli 1998.

Masjid Agung Cianjur adalah salah satu masjid yang dikenal karena panggilan indah untuk berdoa dari menara. Setelah suara panggilan untuk sholat di masjid agung Cianjur dikenal di seluruh pulau Jawa, dan Muadzin juga terkenal pada saat itu termasuk R. Muslihat (terlambat), seorang administrator masjid dan ditunjuk sebagai muazin biasa di Masjid Agung Cianjur.

Penipuan ini adalah salah satu penghuni yang tinggal di Jalan Bojongmeron, Warujajar, dan tidak ada yang kurang dari Muslihat, yaitu RH Duding (alm) di mana ia dulu berada di bagian KUA Keuangan Kabupaten Cianjur, Jalan Oto Iskandardinata I Bojongherang, Buniwangi.

Meskipun tidak diketahui pada saat itu apakah akan manis jika mengumumkan panggilan untuk sholat dengan aksen Surabaya atau Yogyakarta, terutama ketika meniru panggilan shalat dari Mekah.

Di Masjid Agung Cianjur saya mendengar panggilan muazin untuk berdoa sejauh ini tidak ada yang cocok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *