Ingin Wisata Religi di Jawa Timur? Jangan Lupa Kunjungi 4 Masjid Megah ini

Jika mendengar kata wisata religi, bisa jadi masjid. Ya, jika Anda melakukan wisata religi, salah satunya adalah mengunjungi masjid. Ngomong-ngomong, ada juga banyak masjid unik di Jawa Timur yang wajib Anda kunjungi. Apakah Anda ingin tahu apa dan di mana?

1. Masjid Al-Akbar Surabaya

Ketika Anda mengunjungi kota Surabaya, Anda mengunjungi masjid terbesar ketiga di Indonesia. Masjid Al-Akbar, atau Masjid Surabaya, dibangun pada 1995 dan diresmikan pada 10 November 2000 oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid.

Arsitekturnya lebih modern dengan 45 pintu utama, 1 kubah besar dan 4 kubah kecil dengan struktur seperti daun biru dan hijau. Masjid Al-Akbar juga memiliki lift dengan menara setinggi hingga 99 meter. Biasanya, menara ini ramai ketika Anda mengunjungi bulan Ramadhan dan menunggu Iftar sambil menikmati pemandangan Surabaya, Sidoarjo, dan Bangkalan.

Ingin Wisata Religi di Jawa Timur? Jangan Lupa Kunjungi 4 Masjid Megah ini

2. Masjid Tuban Agung

Meski tidak sebesar Surabaya, Tuban juga memiliki masjid yang membanggakan, Masjid Agung Tuban, di Kelurahan Kutarejo, Tuban. Masjid, yang pernah disebut Masjid Jami, dibangun pada tahun 1894 dengan arsitektur yang menyerupai 1001 bangunan malam.

Bangunan itu dihiasi dengan ornamen dan memiliki kubah besar berwarna biru dan kuning. Ukiran arsitektur Jawa klasik ditemukan di pintu kayu dan mimbar. Hal lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Museum Bunga Putih, yang terletak di dekat masjid dan berisi berbagai barang bersejarah seperti buku kulit al-Quran tua, keramik Tiongkok, pusaka, sarkofagus, dll.

3. Masjid Cheng Ho di Surabaya

Sebagai ibukota provinsi Jawa Timur, Surabaya tidak hanya memiliki Masjidil Haram sebagai tujuan wisata religius, lho! Anda juga dapat mempraktikkan pariwisata religius dengan mengunjungi masjid unik lain yang disebut Masjid Cheng Ho. Jual Kubah Masjid

Memang, nama tersebut memiliki unsur Cina karena Masjid Cheng Ho di Surabaya bernuansa Muslim Cina di Jalan Gading, Surabaya. Nama masjid ini, diambil dari nama laksamana dari Tiongkok, sebenarnya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

4. Masjid Cheng Ho Pandaan

Ternyata bukan hanya Surabaya yang memiliki masjid Cheng Ho. Di Pandaan ada juga masjid Cheng Ho. Jadi jika Anda lebih dekat ke kota Pandaan, Anda tidak perlu pergi jauh untuk melakukan tur keagamaan ke Masjid Cheng Ho.

Lokasi lebih mudah ditemukan dan berada di tepi jalan utama di pertigaan menuju Pasuruan, Malang dan Surabaya. Wisata religius di Masjid Cheng Ho di Pandaan juga penuh dengan wisatawan. Jika 200 bus dapat dicapai pada akhir pekan, segera ke sana. Jika Anda penasaran dengan keunikan masjid ini, Anda bisa datang segera,

Kita mungkin sempat berpikir bahwa biasanya bangunan masjid khusus nya di Indonesia ini mempunyai kubah yang menghiasi atap masjid dan sebagai ikon akan masjid itu sendiri. 

Meski kubahnya tidak identik dengan Islam. Kubah itu juga tidak dikenal pada zaman Nabi Muhammad.

Arsitek terkemuka, Profesor K. A. C. Cresswell berkata dalam majalah Arsitektur Muslim Dini kalau wujud awal masjid Madinah( Masjid Nabawi) tidak memakai kubah. Desain masjid Muslim awal sangat simpel, cuma dalam wujud persegi panjang dengan tembok pembatas, tulis Cresswell.

Kubah sudah lama jadi bagian dari arsitektur lama; umumnya dari dahan kayu bagaikan penyangga, yang setelah itu dipadatkan dengan lumpur ataupun batu. Semacam makam Yunani( Greek- Mycenaean) dari abad ke- 14 SM. Teknologi pabrikan berbeda di tiap daerah. Misalnya, Honai, rumah tradisional Dani di Papua, memakai daun sagu bagaikan penutup.

Pemakaian kubah bertambah pada Abad Pertengahan sehabis Kekaisaran Romawi mulai memakai struktur kubah yang menempel pada bangunan persegi panjang. Ini dibuktikan dengan keberadaan bangunan Panthenon( kuil) di Roma, yang dibentuk antara 118 Meter serta 128 Meter oleh Raja Hadria.

Arsitektur Islam tertua yang dia pakai merupakan Kubah Batu( Qubbat as- Shakrah), suatu kuil di Masjid Al- Aqsa di Yerusalem, yang dibentuk pada 691 Meter oleh Abdul Malik bin Marwan, Khalifah Ummaiyyah. Ini merupakan monumen Islam tertua yang sudah dilestarikan sampai hari ini.. Pembangunan kubah wajib melampaui atap Gereja Makam Suci yang indah, tulis Phillip K. Hitti dalam sejarah orang- orang Arab.

Bagi Taufik Ikram Jamil dalam The Headpiece for Malay Malay, diterbitkan oleh Kompas pada 1 Agustus 2003, masjid awal di kepulauan yang memakai atap berkubah merupakan Masjid Sultan di Riau, dibentuk pada 1803, semacam Yang Yang Pertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman( 1833)- 1843).

Masjid umumnya tumpang tindih di nusantara. Kubahnya tidak dikenal. Pemakaian kubah di Asia Tenggara diawali sehabis Perang Rusia- Turki dari tahun 1877 sampai 1878- antara Rusia, Rumania, Serbia, Montenegro serta Bulgaria melawan Kekaisaran Ottoman- yang mengangkut gagasan menghidupkan kembali Islam serta pan- Islamisme.

Pada dikala itu, Kekaisaran Ottoman mengawali gerakan budaya, tercantum pengenalan jenis- jenis masjid baru. Gerakan ini beresonansi di Asia Tenggara. Masjid atap tradisional digantikan oleh masjid berkubah( Qubbah) dengan tower bergaya Oriental ataupun India Utara, tulis Peter J. Meter. Nas di masa kemudian Di masa saat ini: arsitektur di Indonesia.

Denys Lombard di Nusa Jawa Cross Culture: Jaringan Asia mencampurkan reformasi Islam ataupun gerakan pembersihan dengan kerutinan lama pra- Islam ataupun sinkretisme yang diadopsi Islam berabad- abad kemudian. Wujud atap kubah diadopsi oleh Kiai/ Ulama, yang melaksanakan ziarah.

Secara bertahap, kubah jadi simbol sangat modern dari arsitektur Islam yang tampaknya terdapat di masjid- masjid baru di Asia Tenggara, tambah Peter J. Meter. Nas.

Pergantian ini diamati di Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Sehabis dikendalikan serta terbakar sebagian buat kurangi perlawanan rakyat Aceh, Belanda dibentuk kembali pada tahun 1879 serta dilengkapi dengan kubah 2 tahun setelah itu.

Arsiteknya merupakan kapten insinyur militer Belanda( Genie Marechausse) de Bruijn. Bagi Abdul Baqir Zein, rekonstruksi masjid memiliki di Indonesia merupakan strategi Belanda buat memenangkan hati rakyat di Aceh.

Pengaruh arsitektur modern pada bangunan masjid pula jadi suatu intervensi baru untuk budaya islam di kawasan Eropa serta pastinya pula bisa ditemui di suatu bangunan Masjid Lama di Kota Palembang, yang dibentuk pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Baddaruddin I( 1724- 1757). Pada abad ke- 19 kala Komisaris Belanda J. I. van Sevenhoven memandang kalau masjid tua Palembang telah mempunyai kubah yang bisa ditambahkan sehabis bertahun- tahun berdiri.

Kubah daun palem terdapat di atas tower.

Kubah setelah itu menghiasi masjid di pulau- pulau semacam Peter J. Meter. Lukisan cat air Nas 1822 oleh J. W. van Zanten serta litografi tanpa corak oleh Le Moniteur des Indes- Orientalis serta Occidentalis( 1846- 1849), tower masjid Banten, yang menyamai mercusuar, ditafsirkan bagaikan kubah.

Dalam suatu riset dipaparkan oleh ilmuwan bernama De geschiedenis van de meyde, menebak kalau arsitektur masjid di tanah Jawa awal telah memakai kubah masjid yang pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *