Masjid Jami’ Lasem,Langkah Awal Penyebaran Islam Di Rembang

Ada penghubung di depan Sungai Bagan, warga terbiasa minum opium atau arwah. Dekat Masjid Jami Lasem adalah sebuah monumen di sebelah pemakaman yang disebut Babad Lasem. Peringatan itu berisi undangan dari Kyai Ali Badawi kepada semua Muslim di Lasem, yang berdoa sampai tetes darah terakhir setelah salat Jumat untuk melawan VOC Belanda.

Masjid Jami' Lasem,Langkah Awal Penyebaran Islam Di  Rembang

Perang itu adalah perang Sabilillah diikuti oleh warga sipil Tionghoa dan penduduk asli yang bersatu untuk melawan Belanda. Berdasarkan kisah masyarakat, jemaah masjid tidak hanya di antara orang-orang.

Baca Juga: Pembuatan Kubah Masjid Profesional Di Jawa Tengah

Sunan Bonang adalah seorang penatua, sehingga orang-orang di sana sangat tunduk dan menghormati kepribadian Kanjeng Sunan Bonang. Dia mengambil kesempatan baik itu untuk berkhotbah dan mengajar tentang niat Islam. Sejak saat itu, para siswa, baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat, tiba untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan tentang Sunan Bonang.

Posisinya di tengah hutan ternyata membangkitkan minat masyarakat setempat untuk mengunjungi Omah Gede. Selama Kabupaten Sunyoto, ia juga memperbaiki penyangga atap yang rusak. Dana renovasi berasal dari Gubernur Jawa Tengah H. Moenadi dan organisasi non-pemerintah. Renovasi besar dilakukan selama Bupati Rembang Wachidi Rijono pada tahun 1997. Jika kita menelusuri sejarah hidupnya, Pangeran Sedo Laut dikenal tidak hanya oleh rakyatnya sebagai seorang bupati, tetapi juga sebagai pendeta.

Dikatakan bahwa ada banyak orang jenius yang melakukan ibadah mereka di Masjid Sunan Bonang. Orang Lasem menyebut Masjid Bonang istilah Omah Gede (rumah besar). Dinamakan demikian karena bangunan besar ini, awalnya terletak di tengah hutan Alas Kemuning.

Tidak hanya dari wilayah Jawa, konon siswa dari Masjid Bonang berasal dari daerah Minangkabau, Sumatra. Dikatakan bahwa Sultan Machmud, raja Minanhkabau, belajar agama di masjid ini sampai ia meninggal. Sementara itu, untuk melestarikan amal mereka, bangunan masjid bersejarah ini direnovasi pada tahun 1994 oleh pemerintah daerah Rembang bersama dengan umat Islam setempat.

Masjid Baiturrahman di desa Sulang memiliki dua lantai, dengan konsep Jawa dihiasi dengan ukiran di pintu masuk dan nuansa Timur Tengah. Terbatasnya sumber-sumber sumber terdaftar mengenai sejarah masjid ini sejauh ini belum ditemukan dengan pasti tanggal pendirian masjid ini.

Orang-orang bingung pada saat itu karena bangunan masjid seharusnya berada di tengah-tengah hutan. Terbatasnya sumber tertulis terkait dengan sejarah masjid ini, sehingga hingga saat ini belum diketahui secara pasti tentang tanggal pendiriannya.

Sebagian besar sumber daya sejarah masjid ini, bersama dengan sejarah Sunan Bonang di Lasem, adalah dalam bentuk cerita-cerita pidato yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Masjid ini adalah salah satu bukti dan sisa-sisa dari tur misi Sunan Bonang di Rembang dan sekitarnya. Lokasi masjid saat ini sekitar 50 meter selatan dari makam Sunan Bonang.

Sejumlah besar sumber sejarah masjid ini bersama dengan sejarah Sunan Bonang di Lasem adalah dalam bentuk cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi.

“Menurutnya, Masjid Jami Lasem adalah tempat yang dianggap perlu untuk digunakan sebagai konfirmasi nilai-nilai budaya dan sosial di Lasem,” pungkasnya (Minan).

Dia melanjutkan, meneliti beberapa manuskrip, manuskrip Al Quran, dan meneliti berbagai koleksi temuan dari Masjid Jami Lasem pada 2019 kemarin. 

Nanti, kami akan memajang koleksi di Museum Masjid Jami Lasem, beserta laporan penelitian dari berbagai peneliti yang bisa dijadikan referensi ketika pengunjung datang. Tetapi ketika masjid akan ditempatkan di tempat itu, ia benar-benar jatuh di tepi desa Gedongmulyo, di depan Lawang Ombo dan Klentheng Tjoe An Kiong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *