Sejarah Berdirinya Masjid Agung Baitunnur Pati Jawa Tengah

Masjid Agung Baitunnur Pati adalah sebuah bangunan masjid yang terletak di jalan Rajawali No. 82, Kabupaten Pati Kidul, Pati, Jawa Tengah. Yang mana masjid ini merupakan bangunan masjid yang sangat dikagumi dan juga menjadi ikon religi bagi warga Pati,hal ini di karenakan bahwa bangunan Masjid Agung Pati, yang sangat besar dan tentu saja memiliki sejarah tersendiri, dan hal itulah yang menjadi kebanggaan bagi warga Pati. 

Sejarah Berdirinya Masjid Agung Baitunnur Pati Jawa Tengah

Tempat ini juga sangat strategis terletak di sisi barat alun-alun kota Pati. Tempat itu lebih dikenal dengan Simpang Lima. Sementara ada Kantor Bupati Pati dan Gedung DPRD Kabupaten Pati di utara alun-alun kota Pati. 

Selain itu, Masjid Agung di Baitunnur adalah rumah bagi bangunan Islamic Center Kabupaten Pati, yang tepat di sebelah belakang masjid. Bangunan Islamic Center terhubung langsung ke teras dan kolam, yang didasarkan pada struktur kerikil yang juga menawarkan efek refleksi telapak tangan untuk setiap orang yang lewat.

Terlihat dari seluruh bangunan Masjid Agung Baitunnur Pati, bangunan masjid berpadu sangat baik dengan marmer putih di lantai masjid dan dinding depan, yang juga dipadukan dengan ornamen kayu berwarna coklat.

Sehingga bangunan masjid terlihat elegan dan juga besar. Ukuran Masjid Agung Baitunnur adalah hasil karya arsitek terkenal, Prof. Muhammad Nu’man. Dia sangat populer untuk karyanya yang luar biasa, termasuk Masjid Indonesia di Bosnia dan Herzegovina, Masjid Agung At-Tien dan Masjid Islamic Center di Jakarta, serta banyak hasil lain dari karyanya yang menakjubkan.

Di masa lalu, Masjid Agung Baitunnur Pati pertama kali dibangun oleh Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro. Nama aslinya adalah Raden Bagus Mita. Dia berkuasa di Pati dari tahun 1829 hingga 1845, yang dijelaskan dalam tulisan kaligrafi Masjid Agung oleh Pati Baiturbur. Dalam kaligrafi Arab, isi perkembangan awal masjid pada tahun 1845 M persis di Hijriyah pada tahun 1261.

Atap masjid pada awalnya berbentuk seperti Masjid Agung Demak, seperti juga beberapa bangunan masjid tua lainnya. Yaitu dengan atap, yang memiliki tumpukan atap piramida yang biasanya ditemukan di rumah-rumah Jawa kuno. Bentuk atap kini telah menjadi fitur arsitektur Masjid Nusantara. Masjid Agung Baitunnur direnovasi pada tahun 1969 M atau 124 tahun setelah dibangun. Pada saat itu, Kabupaten Pati berada di bawah wewenang A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito, yang melayani dari tahun 1967 hingga 1973.

Dengan perbaikan, bentuk masjid berubah. Apa yang tidak memiliki kubah pada awalnya, masjid memiliki kubah di atap setelah renovasi. Namun, teras Masjid Baitunnur Agung masih dilestarikan dan menara di depan yang sebelumnya, tetapi tidak lagi terlihat setelah renovasi.

Pada tahun 1979 Masjid Agung Baitunnur direnovasi untuk kedua kalinya. Kemudian renovasi kedua selesai pada tahun 1980. Hasil renovasi desain bangunan datang kali ini dari seorang Nu’man yang dengan cerdas mendesain bangunan.

Dia adalah seseorang dari ITB Bandung. Setelah itu, gaya arsitektur Masjid Agung Baitunnur Pati berubah total dari bentuk sebelumnya. Desain masjid saat ini lebih minimalis dengan menara tunggal yang menjulang tinggi di sebelah bangunan utama masjid.

Tapi atapnya bukan teras dan tidak ada kubah di atapnya. Namun, masjid ini terlihat sangat megah dan juga memiliki daya tarik tersendiri.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>